skip to main |
skip to sidebar
Apakah ini pelarian?
sekian lama aku hanya memikirkan seseorang hmm.. hahaha (move on dong..!!)
yes, akhirnya.. setelah sekian tahun kini ada seseorang yang tiba-tiba terus masuk ke dalam pikiranku.
Cinta?
Anggap saja itu anugerah, aku tak benar-benar paham. Yang pasti aku tak bisa mengekpresikannya.
Tembak?
Nah, aku gak bisa merusak pertemanan. Dia orang baik.. dan aku masih bingung, apakah dia harus tau atau tidak. Lagi pula dia sepertinya menyukai seseorang dan aku gak mau dia gak bahagia, aku sudah cukup senang dia jadi teman yang baik.
SELALU BAHAGIA YA... !!!
JKT, 23-04-2019
Baca Selengkapnya...
Hari ini, di hari ulang tahunku.. Akhirnya kurayakan bersama 3 orang teman.. Hmm kami berdiskusi tentang masa lalu, bukan romantisme.. Tapi memang benar-benar masa lalu, yang pada kenyataannya tak bisa dipungkiri baik buruknya adalah hal yang sudah terjadi..
Ah, perayaan yang memang tak direncanakan.. Dan sialnya, aku tak pernah merayakan ultahku dengan orang yang benar-benar kucintai.. Sungguh.. Tapi setidaknya aku pernah merayakan ultah orang yang kucintai.. Ya, berdua saja dengannya.. Tak mungkin kulupa saat itu.
Aku tak benar-benar tahu.. Apakah aku bisa melupakan masa lalu. Ah, waktu terasa semakin berat tanpa adanya dia di sisiku, tapi bisa saja waktulah yang akan memberi jawab.
Dan perayaan pun diakhiri dengan rujakan..
Di emperan masjid, di sela hembusan angin dan dingin malam yang silih singgah menghampiri..
Ah, biarlah kunikmati hari-hari..
6 September 2017
Baca Selengkapnya...
Sejak aku kembali ke sini..
Hanya rasa sakit yang menyambangi..
Ya, entahlah.. Hingga kini rasa sakit itu tak juga berkurang..
Ya Rabb.. Kenapa anugerah cinta yang kau berikan.. Hanya memberi rasa sakit.. Yang tak kunjung hilang..
Ah, luka yang kudapati.. Hanya semakin membuat hati ini kian merana...
Kenapa kau tak bisa bicara.. Ya, jujur apa adanya.. Bahkan setelah tak lagi bersama pun kau masih mengingkari..
Hmm.. Ya, basa basi..
Waktu yang kulalui terasa begitu berat...
Bahkan kau pun seperti tak sudi lagi menemui.. Aku tau, kau ada waktu untuk bertemu.. Tapi.. Ah, mungkin rindumu sudah benar-benar basi..
Sungguh, Sakit.. Yang Bertubi-tubi..
Mungkin yang terakhir kali..
Aku ingin bertemu denganmu.. Menatap wajahmu...
Mungkin akan menjadi penawar rindu dan dan luka di hatiku..
Tapi, kau mungkin berat hati..
Kau menghindari..
Ah, sudahlah..
Kita mungkin tak perlu bertemu lagi.. Biarkan kucari sendiri penawar rasa sakitku ini..
Biarkan aku pergi.. Agar tak membebani..
Sudah seharusnya aku pergi..
Mungkin laut akan benar-benar bisa setidaknya mengurangi rasa sakitku..
..
Ah, aku tak begitu berharap kau kembali padaku.. Toh kau sudah ada pengganti..
Dan waktu sudah menjawab segala dugaku..
Ketidakjujuranmulah yang benar-benar membuatku terluka..
Aku hanya berharap buatmu..
Dia benar-benar yang terakhir kali.. Setialah dengan pilihanmu.. Tak perlu kau berlari lagi.. jujurlah pada nurani sendiri... bersiaplah dengan segala apa yang mungkin terjadi.. Jangan menghindar lagi..
Ya, kau harus bahagia dan setia dengannya..harus..
Dan sudah seharusnya aku tak meratapi diri..
Karenanya...
Aku harus pergi..
Aku harus pergi..
Aku harus pergi..
Aku harus pergi sebelum kau benar-benar permisi..
Yogyakarta, 19 Agustus 2017
Baca Selengkapnya...
sastra bocah lali omah
puisi cerpen
Waktu
Terjebak dan terperangkap sendiri..
Itu yang kualami..
Ada rasa ingin melesat pergi, tapi bagaimana caraku untuk berlari..
Aku tak menemukan titik simpul dimana tepatnya ikatan yg menjerat dan menjebak itu..
Padahal bila kucermati, ia tak benar-benar terikat.
Mungkin waktu telah dan akan akan merawat ingatanku tetangnya..
Padahal waktulah yng membunuh ingatan manusia..
Atau aku harus bersyukur karena waktu juga memberi jeda..
Bukankah jeda adalah nikmat yg harus disyukuri..
Tapi, jauh di relungku.. aku sepenuhnya tak ingin lupa.
Hei waktu.. sampaikan padanya kalau aku baik-baik saja..
Juga sampaikan maafku karena aku juga tak tau 'mengapa harus dia.. yg menjadi muara segala rindu.
Yk, 28 April 2019
Baca Selengkapnya...
Itu yang kualami..
Ada rasa ingin melesat pergi, tapi bagaimana caraku untuk berlari..
Aku tak menemukan titik simpul dimana tepatnya ikatan yg menjerat dan menjebak itu..
Padahal bila kucermati, ia tak benar-benar terikat.
Mungkin waktu telah dan akan akan merawat ingatanku tetangnya..
Padahal waktulah yng membunuh ingatan manusia..
Atau aku harus bersyukur karena waktu juga memberi jeda..
Bukankah jeda adalah nikmat yg harus disyukuri..
Tapi, jauh di relungku.. aku sepenuhnya tak ingin lupa.
Hei waktu.. sampaikan padanya kalau aku baik-baik saja..
Juga sampaikan maafku karena aku juga tak tau 'mengapa harus dia.. yg menjadi muara segala rindu.
Yk, 28 April 2019
Hei
Hei, apa kabarmu..
Maafkan aku yang sudah terlanjur jatuh pada rindu..
Terjebak di belantara suka dan duka..
Jarak terbentang menautkan cerita yg bertandang..
Entahlah, kau sudah terlanjur tau.. hingga membuatku ingin berbagi cerita denganmu..
Hei, mungkin kau sadar, banyak hal baik yang sudah terjadi.. bukan maksudku untuk menghindar..
Mungkin cinta memberikan rasa khawatir di kepala masing-masing, aku tak memaknai itu sebagai kasihan..
Biarkan saja, karena cinta seharusnya menghadirkan aura positif bagi keduanya..
Manusia adalah setitik cahaya, ia tercipta dari suka dan duka. Tapi, manusia juga adalah setitik embun, ia tercipta dari panas dan dingin.
-tetap bahagia selalu-
Jogja, 26 April 2019
Baca Selengkapnya...
Maafkan aku yang sudah terlanjur jatuh pada rindu..
Terjebak di belantara suka dan duka..
Jarak terbentang menautkan cerita yg bertandang..
Entahlah, kau sudah terlanjur tau.. hingga membuatku ingin berbagi cerita denganmu..
Hei, mungkin kau sadar, banyak hal baik yang sudah terjadi.. bukan maksudku untuk menghindar..
Mungkin cinta memberikan rasa khawatir di kepala masing-masing, aku tak memaknai itu sebagai kasihan..
Biarkan saja, karena cinta seharusnya menghadirkan aura positif bagi keduanya..
Manusia adalah setitik cahaya, ia tercipta dari suka dan duka. Tapi, manusia juga adalah setitik embun, ia tercipta dari panas dan dingin.
-tetap bahagia selalu-
Jogja, 26 April 2019
SEMIOTIK
Apakah ini pelarian?
sekian lama aku hanya memikirkan seseorang hmm.. hahaha (move on dong..!!)
yes, akhirnya.. setelah sekian tahun kini ada seseorang yang tiba-tiba terus masuk ke dalam pikiranku.
Cinta?
Anggap saja itu anugerah, aku tak benar-benar paham. Yang pasti aku tak bisa mengekpresikannya.
Tembak?
Nah, aku gak bisa merusak pertemanan. Dia orang baik.. dan aku masih bingung, apakah dia harus tau atau tidak. Lagi pula dia sepertinya menyukai seseorang dan aku gak mau dia gak bahagia, aku sudah cukup senang dia jadi teman yang baik.
SELALU BAHAGIA YA... !!!
JKT, 23-04-2019
hmm.. dirgahayu
Hari ini, di hari ulang tahunku.. Akhirnya kurayakan bersama 3 orang teman.. Hmm kami berdiskusi tentang masa lalu, bukan romantisme.. Tapi memang benar-benar masa lalu, yang pada kenyataannya tak bisa dipungkiri baik buruknya adalah hal yang sudah terjadi..
Ah, perayaan yang memang tak direncanakan.. Dan sialnya, aku tak pernah merayakan ultahku dengan orang yang benar-benar kucintai.. Sungguh.. Tapi setidaknya aku pernah merayakan ultah orang yang kucintai.. Ya, berdua saja dengannya.. Tak mungkin kulupa saat itu.
Aku tak benar-benar tahu.. Apakah aku bisa melupakan masa lalu. Ah, waktu terasa semakin berat tanpa adanya dia di sisiku, tapi bisa saja waktulah yang akan memberi jawab.
Dan perayaan pun diakhiri dengan rujakan..
Di emperan masjid, di sela hembusan angin dan dingin malam yang silih singgah menghampiri..
Ah, biarlah kunikmati hari-hari..
6 September 2017
Aku Harus Pergi
Sejak aku kembali ke sini..
Hanya rasa sakit yang menyambangi..
Ya, entahlah.. Hingga kini rasa sakit itu tak juga berkurang..
Ya Rabb.. Kenapa anugerah cinta yang kau berikan.. Hanya memberi rasa sakit.. Yang tak kunjung hilang..
Ah, luka yang kudapati.. Hanya semakin membuat hati ini kian merana...
Kenapa kau tak bisa bicara.. Ya, jujur apa adanya.. Bahkan setelah tak lagi bersama pun kau masih mengingkari..
Hmm.. Ya, basa basi..
Waktu yang kulalui terasa begitu berat...
Bahkan kau pun seperti tak sudi lagi menemui.. Aku tau, kau ada waktu untuk bertemu.. Tapi.. Ah, mungkin rindumu sudah benar-benar basi..
Sungguh, Sakit.. Yang Bertubi-tubi..
Mungkin yang terakhir kali..
Aku ingin bertemu denganmu.. Menatap wajahmu...
Mungkin akan menjadi penawar rindu dan dan luka di hatiku..
Tapi, kau mungkin berat hati..
Kau menghindari..
Ah, sudahlah..
Kita mungkin tak perlu bertemu lagi.. Biarkan kucari sendiri penawar rasa sakitku ini..
Biarkan aku pergi.. Agar tak membebani..
Sudah seharusnya aku pergi..
Mungkin laut akan benar-benar bisa setidaknya mengurangi rasa sakitku..
..
Ah, aku tak begitu berharap kau kembali padaku.. Toh kau sudah ada pengganti..
Dan waktu sudah menjawab segala dugaku..
Ketidakjujuranmulah yang benar-benar membuatku terluka..
Aku hanya berharap buatmu..
Dia benar-benar yang terakhir kali.. Setialah dengan pilihanmu.. Tak perlu kau berlari lagi.. jujurlah pada nurani sendiri... bersiaplah dengan segala apa yang mungkin terjadi.. Jangan menghindar lagi..
Ya, kau harus bahagia dan setia dengannya..harus..
Dan sudah seharusnya aku tak meratapi diri..
Karenanya...
Aku harus pergi..
Aku harus pergi..
Aku harus pergi..
Aku harus pergi sebelum kau benar-benar permisi..
Yogyakarta, 19 Agustus 2017
Lagu : Tikus Berpesta
kemiskinan dipelihara
diskriminasi rakyat jelata
sesuap nasi demi perutnya
semakin hari makin sengsara
korupsi merajalela
kongkalingkong di mana-mana
korupsi makin menggila
tikus-tikus berpesta-pora
korupsi merajalela
nyanyian sumbang di pintu istana
dana siluman bergentayangan
mengangkangi moral penguasa
yang kaya semakin rakus
yang miskin bertambah kurus
ketimpangan semakin nyata
sejahtera hanya cerita
korupsi merajalela
rakyat kecil dirampas haknya
korupsi makin menggila
sang jelata hilang nafkahnya
korupsi di mana-mana
para binatang berpesta-pora
jangan tutup mata telinga
rakyat murka kau kan binasa
Baca Selengkapnya...
diskriminasi rakyat jelata
sesuap nasi demi perutnya
semakin hari makin sengsara
korupsi merajalela
kongkalingkong di mana-mana
korupsi makin menggila
tikus-tikus berpesta-pora
korupsi merajalela
nyanyian sumbang di pintu istana
dana siluman bergentayangan
mengangkangi moral penguasa
yang kaya semakin rakus
yang miskin bertambah kurus
ketimpangan semakin nyata
sejahtera hanya cerita
korupsi merajalela
rakyat kecil dirampas haknya
korupsi makin menggila
sang jelata hilang nafkahnya
korupsi di mana-mana
para binatang berpesta-pora
jangan tutup mata telinga
rakyat murka kau kan binasa





